Pemerintah Berencana Siapkan Super Apps, Begini Kata Pengamat

Tunjukkan dukungan ke korban penembakan, Pemprov DKI munculkan warna-warna bendera Selandia Baru di JPO GBK. (Foto: Dok. Pemprov DKI)
Jangan lupa join channel telegram kami Klik disini => https://t.me/badaksatuofficial <= untuk mendapatkan informasi terbaru


EN.BADAKSATU.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) saat ini sedang menyiapkan super apps khusus untuk layanan publik. Ketika itu diterapkan, akan menghasilkan satu data sebagai implementasi data driven policy di Indonesia.

Read More

“Jadi, super apps tersebut bertujuan mencegah duplikasi aplikasi sejenis dari berbagai kementerian atau lembaga. Pemerintah saja saat ini masih menggunakan 24.400 aplikasi, tidak efisien dan bekerja sendiri-sendiri. Bahkan, di setiap kementerian/lembaga dan pemerintah daerah masing-masing mempunyai aplikasi yang berbeda-beda di setiap unitnya, sangat tidak efisien,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate dalam suatu kesempatan.

Rencana kebijakan itu ditanggapi positif oleh pengamat kebijakan publik, Riant Nugroho. Menurutnya, rencana itu sudah tepat agar tiada lagi pemborosan anggaran.

“Bagus, sudah tepat, agar tidak setiap unit pemerintah membuat sendiri-sendiri dan memboroskan anggaran,” jelas Riant kepada EN.BADAKSATU.COM melalui pesan singkat, Jumat (15/7).

Read More :  Aplikasi Pinjol Salurkan Rp 308 Triliun Hingga Mei

Sementara itu lain hal dengan Alfons Tanujaya. Pengamat siber Vaksincom ini mengatakan, dari sisi efisiensi memang sebaiknya untuk mengelola data bisa dikelola oleh satu institusi. Namun, hanya pengelolaan layanan infrastruktur datanya saja dan bukan mengelola datanya, karena menurut dia kurang realistis kalau ada satu institusi yang mengelola semua data kementerian yang berbeda-beda dengan fungsi yang berbeda-beda.

“Jadi pengelolaan data tetap dilakukan oleh instansi terkait, tetapi penggunaan layanan penyimpanan seperti cloud dan maintenancenya sebaiknya memang dikelola secara terpusat, sehingga ada penghematan dalam pengelolaan dan lebih mudah mengamankan dibandingkan masing2 kementerian mengelola dan mengamankan datanya,” ungkap dia.

Dilanjutkannya, 2.700 data base yang dikelola dan simpel saja, tentu mengamankan beberapa database cloud besar jauh lebih efektif, murah dan mudah dibandingkan mengelola 2.700 database yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu juga ada faktor redundancy dan hal lainnya yang bisa diberikan oleh cloud.

“Membuat aplikasi itu butuh proses yang panjang dan pengetahuan yang mendalam tentang proses yang ingin digantikan atau disempurnakan oleh aplikasi tersebut. Seperti contohnya memotong birokrasi, menutup peluang korupsi, efisiensi dan sejenisnya. Itu hanya bisa dilakukan oleh instansi yang bersangkutan, bukan orang luar,” jelasnya.

Read More :  Makin Canggih, User WhatsApp Bisa Lakukan Hal Ini Saat Video Call

[faz]



Dikutip dari berbagai sumber
Published for : Team Badak Satu

Disclaimer :


Seluruh informasi yang tersaji di situs Badaksatu.com merupakan berita yang diambil dari data di lapangan dan berbagai sumber berita lain yang tersebar di berbagai media, baik online maupun offline. Kami telah melakukan pengemasan ulang guna menghindari adanya pelanggaran hak cipta.

Namun, jika dalam informasi yang kami tayangkan terdapat hal yang melanggar hak cipta Anda, silakan informasikan kepada kami melalui halaman hubungi kami yang sudah disediakan. Kami akan mengambil langkah cepat dan mengambil tindakan langsung dengan cara menghapus konten yang melanggar hak cipta tersebut.


Hati-hati segala informasi yang tersaji pada website kami, segala jenis penipuan atau pelanggaran bukan tanggungjawab kami sepenuhnya dan kami sarankan untuk selalu waspada serta cek-ricek kembali.