BBM Nonsubsidi Naik, Tantangan Pemerintah Kian Besar

BBM Nonsubsidi Naik, Tantangan Pemerintah Kian Besar
Jangan lupa join channel telegram kami Klik disini => https://t.me/badaksatuofficial <= untuk mendapatkan informasi terbaru


TANTANGAN pemerintah untuk memastikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) tepat sasaran kian berat. Hal ini pasca Pertamina menaikkan harga tiga jenis produk BBM nonsubsidi. Mulai dari Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, mulai Minggu (10/7). Hal ini tentunya akan mendorong terjadinya penyesuaian pasar yang baru.

Read More

Sebagai informasi: Harga Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp 16.200 per liter, dari semula Rp 14.500 per liter. Dexlite naik menjadi Rp 15.000 per liter dari semula Rp 12.950 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp 16.500 naik dari semula Rp 13.700 per liter. Kenaikan harga ini terjadi untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kenaikan harga itu diprediksi akan menekan daya beli di segmen tersebut. Dampaknya, tak dipungkiri pelanggan nonsubsidi bisa saja beralih ke BBM bersubsidi. Meskipun Pertamina telah berupaya, untuk menjaga konsumsi BBM di masyarakat bisa tepat sasaran. Untuk itu, terobosan regulasi melalui aplikasi MyPertamina pun, harus diawasi dengan seksama. Sehingga tidak ada lagi, pelanggan yang sebenarnya masuk ketagori mampu, namun menikmati BBM bersubsidi.

Read More :  Pentingnya Petambak Udang Kuasai Proses Value Chain dan Supply Chain

Sayangnya, di tengah upaya baik itu, pemerintah seolah berkejaran dengan waktu. Implementasi untuk penggunaan aplikasi MyPertamina, juga masih seumuran jagung. Dari website mypertamina.id disebutkan, program pendaftaran konsumen subsidi baru dimulai pada 1 Juli 2022 untuk wilayah tertentu.

Sementara dari segi kesiapan, saat ini sekitar 85 persen SPBU di seluruh Indonesia, telah terkoneksi dengan MyPertamina. Artinya masih ada 15 persen SPBU lainnya yang masih belum terkoneksi. Sementara itu, MyPertamina telah diunduh sebanyak 23 juta dan pengguna aktifnya mencapai sekitar 2,5 juta user per bulan. Itu artinya baru sekitar 10,87 persen saja yang menjadi pengguna aktifnya. Sementara lainnya mungkin baru sekadar download.

Adanya gap tersebut, membuat Pertamina memerlukan banyak waktu lagi untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Belum lagi meredakan sisi masyarakat yang masih kontra, karena mengalami culture lag dengan adanya sistem baru. Perubahan teknologi yang cepat, sementara ketergantungan pada energi membuat konsumsi tak bisa dihentikan atau dikurangi begitu saja.



Dikutip dari berbagai sumber

Published for : Team Badak Satu

Read More :  Buya Syafii Maarif Kader Terbaik Muhammadiyah

Disclaimer :


Seluruh informasi yang tersaji di situs Badaksatu.com merupakan berita yang diambil dari data di lapangan dan berbagai sumber berita lain yang tersebar di berbagai media, baik online maupun offline. Kami telah melakukan pengemasan ulang guna menghindari adanya pelanggaran hak cipta.

Namun, jika dalam informasi yang kami tayangkan terdapat hal yang melanggar hak cipta Anda, silakan informasikan kepada kami melalui halaman hubungi kami yang sudah disediakan. Kami akan mengambil langkah cepat dan mengambil tindakan langsung dengan cara menghapus konten yang melanggar hak cipta tersebut.


Hati-hati segala informasi yang tersaji pada website kami, segala jenis penipuan atau pelanggaran bukan tanggungjawab kami sepenuhnya dan kami sarankan untuk selalu waspada serta cek-ricek kembali.